Pucuk dicinta, ulampun tiba. SMAPA yang sempat dikunjungi SMAN 1 Grati untuk melakukan studi banding adiwiyata, kini berbalik SMAPA yang mengadakan studi banding ke SMAN 5 Malang dan Kebun Raya Purwodadi, Pasuruan. Studi banding ini dilaksanakan pada tanggal 8 Pebruari 2011 dan diikuti oleh beberapa guru yang merupakan wali kelas X dan penanggung jawab Pokja Adiwiyata guru, Koordinator Pokja Adiwiyata siswa dan perwakilan siswa X dan XI dari masing-masing kelas.
Petualangan mereka dimulai sekitar pukul 05.30 WIB dengan menggunakan bus. Perjalanan selama 3 jam mereka tempuh demi menginjakkan kaki di sekolah adiwiyata mandiri sejak tahun 2010 tersebut. Walaupun perjalanan mereka sempat molor karena macet, namun hal itu tidak memadamkan semangat mereka demi melakukan studi banding Adiwiyata di SMAN 5 Malang.
Tujuan mereka melakukan studi banding tersebut adalah untuk mencari referensi mengenai Sekolah Adiwiyata Mandiri dan mengetahui kelebihan-kelebihan SMAN 5 Malang dengan harapan dapat menerapkan hal yang cocok di SMAN 4 dengan memodifikasinya.
Setelah sampai di SMAN 5 Malang sekitar pukul 10.00 WIB, hal pertama yang mereka lakukan yakni bersilaturahmi di aula SMAN 5 Malang. Disini, pembina Adiwiyata SMAN 4 Probolinggo, Bapak Hendrawan yang mewakili Kepala Sekolah memberikan sambutan atas kunjungan mereka yang disambut hangat oleh pihak SMAN 5 Malang. Kemudian, Kepala Sekolah SMAN 5 Malang Drs. Supriyono M.Si., memberikan sambutannya sekaligus memberitahu tentang seluk beluk SMAN 5 Malang mulai dari luas sekolah, jumlah guru dan karyawan, sampai prestasinya di tingkat Propinsi dan Nasional.
SMAN 5 Malang yang memiliki luas 1,5 ha, ternyata memiliki guru tetap sebanyak 64 orang dan guru tidak tetap sebanyak 20 orang dengan 1 tenaga administrasi PNS dan 11 tenaga administrasi tidak tetap. Memang jumlah pegawai tidak tetap di sana cukup banyak, hal ini disebabkan karena sulitnya pengajuan pegawai tetap di kota Malang.
Segudang prestasi juga diraih oleh SMA Negeri yang menjadi Sekolah Adiwiyata Mandiri sejak 8 Juni 2010, yang tropinya diambil di Istana Negara bersamaan dengan pengambilan tropi Adipura kota Malang ini, antara lain: Juara 2 Perpustakaan Tingkat Propinsi dan Juara 1 Fasilitas Kesehatan UKS Tingkat Nasional.
SMAN 5 Malang yang merupakan Sekolah Adiwiyata Mandiri ternyata tidak memiliki keorganisasian tersendiri yang mengurus Adiwiyata, namun Adiwiyata di sini mendapatkan sentuhan langsung dari pengurus OSIS.
Sekolah ini juga dilengkapi kelas reguler berjumlah 30 rombel, 2 kelas akselerasi dan 1 kelas olimpiade. Tak hanya itu, SMAN 5 Malang juga dilengkapi Ruang TRRC (ruangan khusus untuk guru melakukan browsing internet untuk mencari materi pembelajaran), Lapangan Tenis, Ruang Bimbingan Konseling, DBC (Damysoga Broadcasting Coorporation), 2 Green House yakni: Green House Tanaman Langka dan Green House Budidaya Anggrek yang pengelolaannya mendapatkan partisipasi dari seluruh siswa, guru, dan caraka, sebutan bagi pesuruh atau pak kebun sekolah.
Fasilitas kesehatan (UKS) yang disediakan di sana juga menarik, karena terdapat 1 orang paramedis yang stanby selama jam belajar dan 2 orang dokter (1 dokter umum, 1 dokter gigi). UKS ini menyediakan fasilitas cabut gigi yang langsung ditangangani oleh dokter di bidangnya. Tak hanya itu, UKS di sini juga dilengkapi buletin dan brosur tentang berbagai macam penyakit beserta tanda-tandanya, sehingga siswa dapat mengetahui penyakit apa yang diderita sebelumnya dan memudahkan penanganannya. Pantas saja jika UKS SMAN 5 Malang dinobatkan menjadi UKS terbaik tingkat Nasional. Di sana juga dilengkapi ‘SIMPLESIA’, yakni toga kering yang dipamerkan dan dipaparkan beserta manfaatnya. Tiap tahunnya, 10% siswa kelas X direkrut menjadi Kader UKS.
SMAN 5 Malang juga dilengkapi 30 CCTV yang tersebar di tiap kelas dan tempat-tempat strategis, dan buletin bernama ‘Pandawa5’ yang terbit setiap semester, serta buletin mading yang terbit setiap 1 bulan sekali.
Di sana juga ada budidaya jamur tiram, namun sedang vakum saat rombongan SMAN 4 berkunjung, hal ini disebabkan karena masa aktif media tanam jamur/log sudah habis, namun belum dimulai kembali.
Walaupun sudah menjadi Sekolah Adiwiyata Mandiri, dengan kesadaran siswa untuk membuang dan memilah sampah yang baik, sekolah yang memiliki 26 pokja Adiwiyata ini, juga mengalami berbagai kendala yang menghambat pelaksanaan Adiwiyata di sekolah mereka, seperti kurangnya kesadaran siswa untuk merawat taman-taman di sekitar kelas dan kurangnya kesadaran siswa saat ada tanaman yang berbuah. Maksudnya, saat ada pohon yang berbuah, buah sering diambil oleh siswa tanpa ijin. Waduuhh… jangan ditiru ya Sobat!!
Eitss,, tunggu dulu … kita juga dapat sedikit bocoran tentang kiat-kiat mereka menjadi Sekolah Adiwiyata Mandiri lhoo. “Yang pertama pastinya kita harus berani tampil beda, kita harus berani ambil resiko, dan didukung oleh dana Adiwiyata yang mencapai Rp. 80 juta tiap kelas/tahun dari uang SPP,” ujar Mike selaku ketua OSIS SMAN 5 Malang.
Lalu, hal-hal apa saja yang dapat diterapkan di SMAN 4 Probolinggo? Menurut Bapak Hendrawan selaku Pembina Adiwiyata SMAN 4 mengatakan bahwa hal-hal yang dapat diterapkan di sini adalah mengenai pelayanan kesehatan yang sudah baik dan kesadaran siswa dalam membuang dan memilah sampah yang sudah bagus. Namun, kita tidak dapat menerapkan budidaya anggrek seperti di sana, karena kondisi cuaca Probolinggo yang cukup panas. Memang ada beberapa spesies saja yang dapat tumbuh baik di sini. Apalagi SMAN 4 sudah memiliki produk unggulan lain, seperti PBKL yang jika dikembangkan akan menjadi nilai tambah buat SMAPA sendiri. Beliau juga menuturkan komentar tentang studi banding di SMAN 5 Malang kemarin, “Bagus, kita ke sana disambut baik, kita dapat leluasa menanyakan pertanyaan seputar sekolah, sehingga dapat memberi kita gambaran keadaan sekolah, meskipun mereka tidak memberikan program yang mereka jalankan. Namun, kita harus tetap optimis bahwa sebenarnya unggulan kita lebih banyak,” ujar Bapak Hendrawan.
Hal-hal yang dapat diterapkan tadi dapat berjalan setelah laporan studi banding selesai dengan kiat meningkatkan Sumber Daya Manusia melalui sosialisasi pada tim Adiwiyata dan siswa mengenai program terapan hasil naturalisasi tersebut yang dilanjutkan dengan action di lapangan.
Setelah kira-kira 3,5 jam di SMAN 5 Malang, mereka melanjutkan perjalanan ke Kebun Raya Purwodadi.
Kebun Raya Purwodadi adalah kebun raya dataran rendah kering yang merupakan lembaga pemerintah non department yang dikelola oleh LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) yang terletak di kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Selain berfungsi sebagai konservasi tumbuhan secara ex situ dan tempat penelitian tumbuhan, kebun raya ini juga merupakan tempat pendidikan lingkungan, konservasi dan botani, serta tempat berwisata berbasis flora.
Di sana, mereka mempelajari berbagai jenis biodiversitas atau keanekaragaman tumbuhan beserta manfaatnya. Karena kebun raya ini mengoleksi banyak sekali spesies tumbuhan yang jumlahnya mencapai 1.902 spesies yang diketahui dan sekitar 1.500 spesies yang masih belum diketahui. Dengan dipandu seorang guide, mereka berkeliling area depan kebun raya sambil mempelajari keanekaragaman tumbuhan di dalamnya.
Sekitar pukul 16.00 WIB, mereka kembali ke Probolinggo dan sampai sekitar pukul 17.30 WIB.
Lelahnya hari itu, tak sebanding dengan yang mereka dapatkan di SMAN 5 Malang dan Kebun Raya Purwodadi. Semoga studi banding itu semakin membakar semangat kita untuk membuat SMAN 4 Probolinggo menjadi Sekolah Adiwiyata Mandiri.