Jingle dare merupakan ajang kreativitas dalam karya cipta lagu yang diadakan Indomie, khusus untuk anak sekolah menengah atas atau SMA. Jingle Dare yang diadakan setiap tahun, siap mengorbitkan pemenangnya untuk berkarya di dunia musik nasional. Setiap tahun tema, selalu berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Tahun kemarin saja, acara yang dipromotori oleh Indomie itu bertema “Sing Your Story”, sedangkan tahun ini bertema “Indomie”.
Kontes musik anak remaja ini dibagi beberapa tahap penyeleksian, yakni: seleksi pertama, seleksi kedua (semi final) tingkat propinsi, dan seleksi ketiga (final) tingkat nasional. Seleksi pertama dilakukan dengan mengirimkan demo dua lagu dalam bentuk CD, lagu yang didemonstrasi oleh para peserta terdiri dari dua lagu, yakni lagu Indomie yang diaransemen ulang dan lagu ciptaan peserta sesuai tema yang telah ditentukan. Proses penyeleksian tahap pertama yang sangat ketat berhasil dilalui oleh Loudcazt Band hingga masuk ke babak semi final yang dilaksanakan di Jember pada tanggal 19 Maret 2011. Jingle dare tahun 2011 ini merupakan yang pertama diikuti SMAPA, berkat musyawarah pembina ekstra band SMAPA, bersama panitia Indifest yang menghadiahkan pemenang Indifest untuk mengikuti Jingle dare. Selain itu, untuk meningkatkan kretivitas anak SMAPA dalam bermusik dan mencari bibit pemusik baru di SMAPA. Amynur sebagai ketua panitia Indifest menuturkan, “Mengikuti Indifest sudah merupakan kebanggaan, walaupun saya tidak ikut sebagai peserta. Saya hanya mengantarkan pemenang Indifest untuk ikut dalam festival Jingle Dare dengan harapan dapat lolos babak semi final dan menjadi juara.” Berbagai latihan yang cukup padat, sanggup dilakoni teman-teman kita demi memberikan performa terbaiknya dalam ajang tingkat propinsi itu. Bagaimana tidak, setelah mendapat berita bahwa SMAPA lolos ke babak semi final, latihan dilakukan setiap hari di Gemini Studio. Tidak hanya itu, SMAPA juga membawa supporter pada hari perlombaan yang siap mendukung band kebanggaan kita itu sampai titik darah penghabisan. Supporter yang dibawa oleh peserta juga dilombakan lho, walaupun supporter SMAPA berjumlah sedikit dan tanpa persiapan untuk dilombakan, karena tidak adanya konfirmasi yang jelas dari pihak penyelenggara dalam pemakaian supporter. Namun mereka yang ditunjuk menjadi supporter, tetap antusias dalam mendukung Loudcazt Band. Alhasil, walaupun keduanya tidak membawa piala kemenangan, mereka tidak berkecil hati dan tidak merasa kecewa, karena memang ini pertama kalinya untuk SMAPA. Toh dengan mengikuti festival itu untuk pertama kalinya, para personil Loudcazt Band mendapatkan pengalaman baru untuk tampil di hadapan juri yang sudah berpengalaman dan bertanding dalam bermusik dengan peserta lain se-Jawa Timur. Hal ini dapat digunakan untuk mempersiapkan diri di festival yang sama tahun depan.
Pak Bayu sebagai pembina ekstra band SMAPA menuturkan tanggapannya tentang partisipasi SMAPA dalam festival Jingle Dare tingkat propinsi itu, “Kita nggak lolos ke babak final karena masih belum pengalaman yang lolos ke final tiap propinsi cuma satu, yang berkesempatan mewakili Jawa Timur sendiri, SMAN 2 Madiun. Vokalis kita kurang komunikasi dengan penonton. Jadi, secara garis besar performance kita kurang. Mentalnya belum nyampek deh, yang sana sudah dengan pede-nya, kita masih malu-malu. Untuk tahun berikutnya nggak ada alasan untuk tidak pengalaman lagi, dengan harapan kita bisa lolos ke babak final.”
Emm….. Kalo gitu jangan berkecil hati dah buat personil Loudcazt Band, tingkatkan kreativitasmu dalam bermusik. So, don’t give up for Loudcazt Band. There are no gain without pain.