Alami vs Ilmiah, mungkin kata yang tepat untuk menggambarkan penemuan baru yang satu ini. Sebuah bioteknologi pengganti bahan kimia. Bioteknologi ramah lingkungan yang ternyata mampu mengambil alih fungsi bahan kimia seperti Pembersih Porselen. Tak hanya ramah lingkungan, namun juga murah dan mudah dibuat. Penasaran kan?? Jangan lewatkan yang satu ini.
Ironis memang, di tengah hidup yang serba instan, seperti penggunaan pembersih porselen instan yang menimbulkan emisi ringan, lingkungan pun jadi terabaikan. Pembersih porselen adalah cairan pembersih yang berfungsi menghilangkan dengan cepat segala noda pada toilet, permukaan porselen, keramik, mosaik, dan sejenisnya, yang mengandung Asam Klorida aktif. Bahan kimia Asam Klorida menyebabkan bau cairan pembersih porselen ini menyengat. Efeknya memang ringan yaitu menyebabkan polusi kecil dan tidak baik untuk paru-paru manusia, namun jika digunakan terus-menerus akan berdampak serius bagi lingkungan dan kesehatan manusia. Bersumber dari keprihatinan pada penggunaan bahan kimia yang berlebihan saat ini, sebuah komunitas pecinta lingkungan hidup di Malang mengembangkan ide mereka untuk menciptakan sebuah terobosan baru dalam mengurangi penggunaan bahan kimia dengan Bakteri Cair Pengganti Porselen. Penemuan ini, mereka sosialisasikan pada kegiatan Kemah Hijau di Selorejo tahun 2010 lalu.
Sosialisasi ini sampai pada SMAN 4 Probolinggo melalui perwakilannya dalam Kemah Hijau tersebut. SMAPA yang berwawasan lingkungan, tentu ikut menerapkan pembuatan bakteri cair tersebut menjadi program pembelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) tahun ajaran 2010-2011 untuk kelas X. Hal ini, disampaikan Bapak Taufan Affandi selaku guru PLH kelas X. Beliau juga menuturkan bahwa program tersebut juga diajarkan pada anak-anak Adiwiyata.
Bahan-bahan yang diperlukan dalam pembuatan bakteri cair antara lain: tape ½ kg, susu fermentasi, gula ½ kg, tempe ¼ kg dan air 14-15 liter. Langkah pertama, yaitu: melumatkan tape dan tempe serta mencampurkan keduanya dengan 3 sendok makan susu fermentasi. Mengapa digunakan tape, tempe dan susu fermentasi? Mungkin hal itu, yang ada dibenak Sobat sekalian. Karena tape, tempe dan susu fermentasi merupakan produk yang memanfaatkan jasa jamur dan bakteri yang nantinya akan bercampur, sehingga mendorong bakteri untuk bermutasi. Langkah selanjutnya, yakni menambahkan air secukupnya pada lumatan tape, tempe dan susu fermentasi yang kemudian disaring hingga sari-sarinya masuk ke dalam galon berisi 14-15 liter air. Namanya bakteri cair, pasti wujudnya seperti air. Selanjutnya, menutup galon dengan plastik yang diikat pada mulut galon sebagai indikator ada tidaknya bakteri. Jika, bakteri benar-benar hidup maka plastik dimulut galon ini akan mengembang karena gas CO2 (karbon dioksida) hasil pernapasan bakteri dan uap air. Langkah berikutnya, yaitu menyimpan galon dalam tempat kering, bersih, dan tidak terkena sinar matahari secara langsung. Hal ini perlu diperhatikan karena dalam perkembangbiakannya, bakteri yang aktif dalam galon tersebut membutuhkan suhu yang optimum, yaitu tidak terlalu dingin, namun juga tidak terlalu panas. Selanjutnya, mendiamkan galon selama 7 hari. Hal ini untuk proses adaptasi bakteri dengan lingkungannya yang baru. Jika bakteri sudah bisa beradaptasi dengan baik, maka metabolismenya pun membaik, yang kemudian mendorong bakteri tersebut untuk bermutasi menjadi bakteri yang lebih resultan untuk memakan kerak-kerak di toilet, sehingga dapat menggantikan fungsi pembersih porselen. Penyediaan nutrisi juga wajib diperhatikan dengan memberi satu sendok makan gula per harinya. Indikator pembuktian dapat dilakukan dengan menyiramkan, kira-kira segelas bakteri cair pada toilet yang kemudian didiamkan selama 20-30 menit. Hal ini dilakukan untuk memaksimalkan pemakanan kerak toilet oleh bakteri. Selain digunakan sebagai pengganti porselen, bakteri cair ini juga dapat digunakan sebagai pelancar saluran air yang tersumbat. Hal ini sudah dibuktikan oleh siswa kelas X yang melakukan praktikum.
“Secara umum sudah bagus, siswa sudah bisa melaksanakan dengan baik, tapi untuk hal perawatan masih kurang karena kebanyakan siswa tidak tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya,“ tutur Bapak Taufan Affandi terhadap praktikum pembuatan bakteri cair yang dilaksanakan anak kelas X.
Tentunya penemuan baru yang ramah lingkungan dan murah ini, diharapkan mendorong kreativitas siswa-siswi SMAPA untuk menghasilkan produk yang bisa dibuat sendiri, tidak harus beli dan ramah lingkungan. Rencananya SMAPA akan melakukan pembuatan bibit jamur tiram yang akan segera dilaksanakan. Terlebih rencana pembuatan pembasmi gulma alami. Pokoknya tingkatkan kretivitas deh!
“Harapan ke depan yang pasti, program ini harus tetap berlanjut walau ada atau pun tidak ada Adiwiyata. Program yang sudah ada dikembangkan serta program yang belum ada diadakan “ tutur guru Biologi, TIK, sekaligus PLH tersebut.